Activity

  • Isa Abubakar posted an update 3 weeks, 3 days ago

    1. Hakikat Filsafat

    a. Pengertian Filsafat
    Filsafat (terjemahan dari bhs Inggris philolophy) berasal dari bahasa Yunani, yaitu philo, philia, philein (love of ) dan Sophia atau sophos (wisdom). Oleh karena itu secara etimologis filsafat artinya cinta atau MENCINTAI akan kebajikan/kebijaksanaan (love of wisdom). Cinta artinya hasrat yang besar atau yang berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Dengan demikian filsafat memiliki makna, yaitu hasrat yang menggebu atau keinginan yang sungguh-sungguh/kemauan keras akan kebenaran sejati. Berdasarkan arti tersebut, para ahli kemudian merumuskan arti dari filsafat itu sendiri. Ada yang menguraiakan bahwa filsafat sebagai suatu upaya untuk berpikir secara radikal dan menyeluruh, cara berpikir dengan mengupas obyek sedalam-dalamnya.
    Kattsoff, sebagaimana dikutip oleh Associate Webmaster
    Professional (2001), menyatakan bahwa karakteristik filsafat adalah:
    •Filsafat adalah berpikir secara kritis dan radikal (mendalam)
    •Filsafat adalah berpikir dalam bentuknya yang sistematis.
    •Filsafat mengahasilkan sesuatu yang runtut atau koheren
    •Filsafat adalah berpikir secara rasional dan konspetual
    •Filsafat bersifat komprehensif.

    b. Objek Filsafat
    Obyek filsafat ada dua, yaitu :
    • Objek material filsafat adalah segala sesuatu yang ada, yang meliputi : ada dalam kenyataan, ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan,
    • Objek formal filsafat adalah hakikat dari segala sesuatu yang ada (Lasiyo dan Yuwono, 1994 : 6).
    c. Sistematika Filsafat
    Sebagaimana pengetahuan yang lain, filsafat telah mengalami perkembangan yang pesat yang ditandai dengan bermacam-macam aliran dan cabang.
    • Aliran-aliran Filsafat. Ada beberapa aliran filsafat dinataranya adalah : realisme, rasionalisme, empirisme, idealisme, materialisme, dan eksistensialisme.
    • Cabang-cabang Filsafat. Filsafat memiliki cabang-cabang yang cukup banyak dinataranya adalah : metafisika, epistemologi, logika, etika, estetika, filsafat sejarah, filsafat politik, dst

    2. Fungsl Filsafat

    Filsafat sangat berguna karena dengan belajar filsafat, kita semakin mampu menangani pertanyaan-pertanyaan mendasar (makna realitas dan tanggung jawab) yang tidak terletak dalam wewenang metode ilmu-ilmu khusus.

    ·Berfilsafat mengajak manusia bersikap arif, berwawasan luas terhadap berbagai problem yang dihadapi. Manusia diharapkan mampu memecahkan problem tersebut dengan cara mengidentifikasikannya agar jawaban-jawaban dapat diperoleh dengan mudah.

    ·Filsafat dapat membentuk pengalaman kehidupan seseorang secara lebih kreatif atas dasar pandangan hidup atau ide-ide yang muncul karena keinginannya.

    ·Filsafat dapat membentuk sikap kritis seseorang dalam menghadapi permasalahan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun kehidupan lainnya (interaksi dengan masyarakat, komunitas, agama, dan hal-hal lain di luar dirinya) secara lebih rasional, lebih arif, dan tidak terjebak dalam fanatisme yang berlebihan
    •Terutama bagi para ilmuwan atau para mahasiswa dibutuhkan kemampuan menganalisis, yaitu analisis kritis secara komprehensif dan sintesis atas berbagai permasalahan ilmiah yang dituangkan dalam suatu riset atau kajian ilmiah lainnya. Filsafat dilaksanakan dalam suatu suasana pengetahuan yang mementingkan kontrol atau pengawasan. Oleh karena itu, nilai ilmu pengetahuan timbul dari fungsinya, sedangkan fungsi filsafat timbul dari nilainya.

    3. Perkembangan Filsafat Ilmu dalam Sejarah
    Perkembangan filsafat ilmu sejalan dengan perkembangan filsafat. Belajar perkembangan ilmu dimaksudkan untuk mengetahui sejarah perkembangan pemikiran mansia. Dengan mengetahui perkembangan pamikiran manusia, banyak manfaat yang dapat diperoleh. Tingkat peradaban manusiapun dapat diketahui melalui sejarah perkembangan ilmu. Perkembangan ilmu meliputi zaman Yunani kuno, zaman abad pertengahan, zaman renaissance dan modern, dan zaman kontemporer.

    1. Filsafat ilmu pada zaman Yunani kuno (abad ke-7 SM) 

    Seperti telah disebut di atas, berdasarkan catatan sejarah bahwa zaman Yunani kuno merupakan titik awal berpindahnya paradigma pemikiran dari mitosentris ke logosentris. Pada masa ini bangsa Yunani tidak lagi mempercayai mitos-mitos dan mulai senang menyelidiki sesuatu dengan kritis. Sikap kritis ini melahirkan beberapa filosof yang berjaya dan dikenal pada zamannya dan sesudahnya seperti Thales, Anaximander, Heraclitos dan lain-lain. Oleh beberapa filosof pada zaman ini filsafat diartikan sebagai bertanya secara rasional dan mencari jawaban atas prinsip-prinsip pertama atau arkhe dari realitas. Dalam hal ini, Thales beranggapan bahwa arkhe itu adalah air, Anaximandros mengemukakan bahwa arkhe itu adalah tidak terbatas (to apeiron), sedangkan Heraclitos melihat bahwa arkhe adalah api, ia juga berpendapat bahwa segala sesuatu itu terus mengalir.

    Pada tahun 470 SM lahir seorang filosof dengan metode dan sistem pemikiran yang lebih berkembang berbanding pendahulunya, Socrates, yang bisa diketahui pemikirannya berdasarkan naskah-naskah salah seorang muridnya, Plato yang lazimnya disebut “dialog-dialog Plato”. Sebagai seorang moralis, Socrates berusaha mengembangkan sikapnya yang sangat mendasar mengenai hakikat hidup dan kehidupan manusia. Socrates mengajarkan bahwa kebenaran dan kepastian dapat dicapai melalui metode dialektika. Metode ini menurutnya dapat menuntun orang untuk mempersoalkan kenyataan yang ada secara terus menerus sampai akhirnya menemukan kepastian yang kokoh.

    Berbeda dengan gurunya, Plato berkesimpulan bahwa sumber dari segala pengetahuan adalah ide absolut. Dalam hal ini, Plato lebih menaruh perhatian pada kualitas yang abstrak. Selain Plato, adapula Aristoteles (384-322 SM) yang namanya tidak asing lagi di telinga para kademisi. Sebagai seorang realis ia mendasarkan pemikirannya pada pengalaman. Menurut Aristoteles, berdasarkan pengalaman berulah selanjutnya subjek memberikan uraian mendasar mengenai data-data pengetahuan itu. Ia memandang pengetahuan sebagai hubungan timbal balik antara subjek dan objek dengan berbagai implikasinya.

    2. Filsafat ilmu pada zaman abad pertengahan 

    Perkembangan filsafat ilmu pada abad pertengahan ditandai dengan kehadiran para teolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah ‘abadi agama’. Ajaran kristen merupakan problema kefilsafatan, karena mengajarkan bahwa wahyu tuhanlah yang merupakan kebenaran sejati, sedangkan kegitan keilmuan praktis diarahkan untuk mendukung kebenaran teologi. 

    Menurut Aholiab, zaman ini mengalami dua periode, yakni 1) periode patristik, sebuah istilah yang diambil dari kata pater yang bermakna bapa perintis gereja. Periode patristik ini terdiri pula atas dua tahap, yakni permulaan agama Kristen dan Filsafat Agustinus yang melihat dogma-dogma sebagai suatu keseluruhan. 2) periode skolastik. Periode ini berlangsung dari tahun 800-1500 M. periode ini dibagi dalam tiga tahap, yakni (a) periode skolastik awal ditandai dengan lahirnya metode-metode hasil dari hubungan yang rapat antara agama dan filsafat; (b) periode puncak perkembangan skolastik ditandai dengan keadaan yang dipengaruhi oleh Aristoteles 

    3. Filsafat ilmu pada zaman renaissance dan modern 

    Renissance berarti kebangkitan kembali, yakni kembali ke pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Renaissance merupakan zaman peralihan ketika kebudayaan abad pertengahan mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia pada zaman ini adalah manusia yang merindukan pemikiran yang bebas.

    Ilmu pengetahuan yang berkembang pesat pada zaman renaissance adalah astronomi. Tokoh-tokoh yang terkenal seperti 1) Roger Bacon, yang berpendapat bahwa pengalaman atau empiris menjadi landasan utama bagi awal dan ujian akhir untuk semua ilmu pengetahuan. Matematika merupakan syarat mutlak untuk mengelola semua pengetahuan. 2) Copernicus, yang berpendapat bahwa bumi dan planet semuanya mengelilingi matahari, sehingga matahari menjadi pusat. 3) Galileo Galilei, yang telah membuat teropong bintang yang terbesar pada masa itu dan mengamati beberapa peristiwa angkasa secara langsung. Ia menyimpulkan bahwa planet-planet tidaklah memancarkan cahaya sendiri, melainkan hanya memantulkan cahaya dari matahari.

    Adapun untuk zaman modern ditandai dengan penemuan berbagai bidang ilmu. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern dirintis oleh Rene Descartes dan terkenal sebagai bapak filsafat modern. Ia seorang ahli ilmu pasti, penemuannya dalam ilmu ini adalah sistem koordinat yang terdiri atas dua garis lurus X dan Y dalam bidang datar. Selain Descartes ada Isaac Newton (1642-1727) yang terkenal dengan teori grafitasinya. Walaupun penemuannya terdiri atas tiga buah, yakni teori grafitasi, perhitungan calculus, dan optika, Newton pun memaksakan pandangannya ke dalam bidang kehidupan kultural yang luas dan sampai pada bidang psikologi. Ada pula charles darwin dengan teorinya ‘perjuangan untuk hidup’. Darwin dikenal sebagai penganut evolusi yang fanatik. Ia mengatakan bahwa perkembangan yang terjadi pada makhluk di bumi terjadi karena seleksi alam.

    4. Filsafat ilmu pada zaman kontemporer 

    Perkembangan filsafat ilmu pada zaman kontemporer ditandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan informatika termasuk salah satu yang mengalami kemajuan sangat pesat. Mulai dari penemuan komputer, berbagai satelit komunikasi, internet dan sebagainya. Akibatnya, terjadi spesialisasi ilmu yang semakin tajam. Salah satu tokoh terkenal pada zaman ini adalah Albert Einstein. Ia menyatakan bahwa alam itu tidak terhingga besarnya dan tidak terbatas, tetapi juga tidak berubah totalitasnya atau bersifat dari waktu ke waktu. Einstein percaya akan kekekalan materi. Ini berarti bahwa alam semesta ini bersifat kekal, dengan kata lain tidak mengakui adanya penciptaan alam.

    Di samping kecenderungan ke arah spesialisasi, kecenderungan lain adalah sintesis antara bidang ilmu satu dengan dengan lainnya, sehingga dihasilkannya bidang ilmu baru seperti bioteknologi yang dikenal dengan teknologi kloning. Demikian pula dengan sintesis antara psikologi dengan dengan linguistik yang menghasilkan psikolinguistik dan juga neurolinguistik. Sintesis antara ilmu komputer dengan linguistik menghasilkan ilmu komputasional.