Ahmad Faisal Harish

  • Dl: 31 Oktober 2015

     

    [INFO LOMBA]

    Salam Fisika! Salam Fisika! Salam Fisika!
    “Fisika itu tiadalah susah. Rumus yang sulit pun tiada masalah. Sudah dijelaskan saat sekolah. Belajar dan berlatih […]

  • Thumbnail

    Rizman Adhi Nugraha kelahiran Bangka Belitung bakal menjadi astronot pertama dari Indonesia yang akan menjelajah angkasa. Waktu keberangkatan pun semakin dekat. Jika tak ada perubahan, take off  paling cepat […]

  • Thumbnail

    Merdeka.com – Tim mobil Universitas Negeri Yogyakarta, Garuda UNY Racing Team (GURT) menjadi juara umum dan mendapat gelar Best of the Best pada gelaran International Student Green Car Competition (ISGCC) 2015 […]

  • ThumbnailKarya: Wahyuni S Fitri

    SPU, Sistem Priodik Unsur, aku berfikir 8 kali lebih keras pada unsur Gol VIII A, Golongan spesial dan ternama, tapi Argon sering bercerita padaku bahwa dia sering […]

  • Karya : Quina Fathonah

    q
    Aku gadis berambut pendek yang bukan remaja lagi, yang dahulu tak pernah mengenakan rok selain rok Sekolah, yang dahulu mempercayai keajaiban cinta.
    Aku gadis yang tidak muda lagi. Usiaku menginjak 28. Aku terus merias diri di depan cermin.
    Mengingat kembali semua kejadian di masa lampau. Di masa SMU yang bagai nano-nano. Mencari keajaiban lagi agar aku bisa sekokoh karang. Mencari beribu alasan menguatkan hatiku. Saat aku SMU, dulu, dahulu kala. Saat dimana aku mengagumi seseorang. Saat semua ABG mulai merasa dewasa dengan urusan cinta mereka. Saat itulah aku merasakannya juga. Harus aku bilang dialah, dialah orangnya. Lelaki tinggi, tampan, ideal yang menjadi idaman semua murid SMU.
    Kulitnya bersih bersinar kuning langsat. Dan jika terpapar sinar matahari, aduhai dia jauh lebih keren dari yang aku bayangkan. Dan yang lebih penting, dia taat beragama. Jangankan bersentuhan dengan teman- teman wanitanya, menatap mereka dalam-dalam saja dia tak pernah.
    Aduhai benar-benar lelaki idaman semua gadis. Dan harus aku akui, dulu aku pernah melakukan hal aneh yang tidak mereka duga. Aku hanya mencintainya dalam diam. Aku tak berani, sampai-sampai aku melakukan hal terbodoh dalam hidupku. Katanya ini adalah mantra cinta, mantra cinta dari penulis favoritku, Tere Liye.
    Saat dia bersama teman-temannya di depan Laboratorium Fisika, aku melewatinya. Berpapasan dengannya adalah hal indah yang aku rasakan kala itu. “Hai, Eko.” Aku mencoba menyapanya. Menunggu beberapa detik dengan nafas tertahan, berharap dia menjawabnya. “Hai.” Dia hanya menjawab hai dengan senyum menunduk. Iya, itulah Eko. Tepat saat kami sejajar, aku mulai menghitung banyaknya keramik lantai yang harus aku lewati, karena aku sudah mengukur panjang keramik di setiap sudut Sekolah. Berharap aku dapat berdiri sepuluh meter di belakangnya.
    Ya, aku mendapat posisi yang aku inginkan. Tidak ramai. “Pram kedumbyar, panci basah. Kalau dia suka, menolehlah,” Aku mulai berbisik dengan yakin entah pada siapa. “Pram kedumbyar, panci basah. Kalau dia suka menolehlah,” Bisikan kedua aku sampaikan dengan penuh keyakinan. “Pram kedumbyar, panci basah. Kalau dia suka menolehlah.” Selesai sudah aku bisikan kalimat itu dengan semakin yakin. Berharap dia akan menoleh. “Ekooo, dipanggil Pak Yulius di ruangannya.” Teriakan itu berasal dari orang lain di belakangku. Eko menoleh. Ke arahku atau ke sumber suara tadi? Ah aku mati kutu. Sedikit kaget, namun otakku langsung memerintahkan bahwa aku harus berlari.
    Aku berlari secepat yang aku bisa. “Wid, Andre sudah menunggu.” Ucap mama dengan di luar kamarku. “Iya, sebentar.” Aku menuruni tangga menuju ruang tamu. Dengan wajah ber-make up, dress selutut, dan tas selempang di tangan kananku. Ah lupa sepatuku. Kembali ke kamar dan mengambil wedges setinggi lima sentimeter. Menuju ruang tamu dengan senyum manis. “Ma, aku berangkat dulu.” “Lho kok ga makan dulu, nanti Andre kelaperan?” “Kan di tempat reuni juga ada makanan. Oke ma, bye.” Aku dan Andre mencium tangan Mamaku bergantian. Aku dan Andre akan menghadiri reuni ke-10 kelulusan SMU-ku.
    Kami pergi dengan Honda Jazz Andre. Dia membeli mobil ini setahun yang lalu dengan uangnya sendiri penghasilan dari bimbingan belajar yang dikelolanya, ya bimbel itu miliknya. Andre memang lelaki baik. Aku dua tahun lebih muda darinya. Dia putra rekan bisnis ayahku. Aku mulai mengenalnya sejak tiga tahun lalu di pesta pernikahan kakaknya. Saat itu aku memang sedang stress. Ayah mengenalkanku dengannya. Andre menemaniku melewati masa-masa kelam hatiku yang terpuruk.
    Menemaniku di malam-malam dingin saat pericarditas itu memasukkanku ke Rumah Sakit. Aku selalu mencoba untuk mencintainya. Namun semakin aku mencoba, semakin sulit aku melupakan perasaan itu. Pesta reuni malam ini begitu meriah. Ramai. Teman-teman banyak yang sudah datang. “Wid, kenalin dong calonnya!” Suara Sarah mengagetkanku. “Haaiii Sarah,” cipika-cipiki denganya, “Duuuh udah lama ga ketemu, main dong ke rumah.” Aku menyalami suaminya, dan anaknya yang sudah berusia lima tahun. “Ah nanti aja kalau kamu nikah.” “Ssst ah. Ini Andre.” “Andre.” Andre menyalami tangan Sarah, suami Sarah dan anaknya. “Kapan nih, Dre? Undangannya ditunggu secepatnya.” Andre tidak menjawab pertanyaan Sarah.
    Seketika hatiku tercekat melihat sesosok lelaki yang menggendong bayi laki-laki dari arah pintu masuk, dia ditemani wanita cantik menuntun anak perempuan sekitar dua tahunan. Itukah keluarga kecilnya? Keluarga yang membuat hatiku hancur berkeping-keping. Sampai sekarang, aku masih menyesali kejadian sepuluh tahun yang lalu. Kejadian yang benar-benar mengubah cara berpikirku. Kejadian yang harus aku terima lapang-lapang. Kejadian yang, ah sudahlah. Kejadian saat hari kelulusan, di moment truth or dare. Aku memilih dare. Karena aku berpikir berani lebih baik dari pada harus jujur dengan pencitraan. Dan ketika tiba bagian Eko, dia memilih truth. “Ada satu gadis yang membuat aku memikirkannya. Memikirkan tingkahnya yang lucu. Aku tau itu salah, tapi aku tak akan menyalahkannya. Karena akulah yang salah. Aku mengagumi Widya.” Itulah kalimat yang dia ucapkan di hari kelulusan.
    Aku berpikir seorang pria sejati akan menyatakan kesungguhannya dihadapan keluargaku dan keluarganya. Aku selalu berharap beberapa tahun setelah itu, dia datang. Datang dengan janji kehidupan yang bahagia. Aku terus menunggu. Menunggu dengan penuh penantian. Aku tak pernah bosan untuk menunggunya. Aku tak pernah lupa makan dan sholat, karena aku yakin dia yang nun jauh di tempatnya selalu mengingatkanku dalam hatinya. Aku tak pernah berhenti berharap dan menunggu datangnya hari bahagia itu datang. Aku tak habis pikir kenapa aku sampai berpikir demikian. Semua pikiranku terisi angan-angan janji kebahagiaan itu.
    Sampai akhirnya, tiga tahun yang lalu datang sebuah surat. Undangan pernikahannya. Saat itulah aku benar- benar menyesal atas apa yang aku pikirkan selama tujuh tahun. Tujuh tahun yang aku habiskan untuk memikirkannya. Tujuh tahun yang aku habiskan bermain dengan angan-angannya. Tujuh tahun yang aku habiskan dengan sia-sia. Tujuh tahun aku tak pernah mendapat kabar tentangnya namun aku yakin dia baik dan akan datang untukku. Dan tujuh tahun itu benar-benar membekas lukanya. Luka yang terbentuk oleh goresan angan- anganku selama tujuh tahun. Bukankah itu menyakitkan? Dan semua itu hanya menjadi mimpi sia-sia.
    Aku dihadapkan pada kenyataan yang memilukan. Kenyataan yang membuatku bangun dari mimpi itu. Mimpi yang aku susun selama tujuh tahun. Penyesalan. Hatiku semakin tercekat. Aku pulang diantar Andre lagi. Esoknya aku izin tidak masuk kantor. Teralu lelah untuk pergi. Aku memikirkan terus bagaimana. Bagaimana cara mencintai Andre? Andre yang selalu menemaniku di masa-masa kelam itu. Andre yang rela kembali ke Jakarta saat ada rapat pertambahan cabang bimbelnya di Semarang karena aku masuk rumah sakit. Aku harus bagaimana? Hatiku masih tersimpan dengan luka Eko selama ini. Bagaimana aku harus membukanya untuk Andre? Aku memasang note di pintu kamar. “Widya sudah sholat Ashar. Mau istirahat.” Pericarditis itu membuatku benar-benar istirahat. Dan kasihku tak tersampaikan

  • 18 Oktober 2014

    10419498_867959156561267_5299653201359825048_n

    HIMAFI UNY VERY PROUDLY PRESENT dalam rangka
    PEKAN ILMIAH FISIKA (PIF) XVII

    “SEMINAR NASIONAL FISIKA DAN PENDIDIKAN FISIKA 2014”

    Konseptualisasi Substansi Fisika dan Pendidikan Fisika dalam Menghadapi ASEAN Community 2015

    *18 Oktober 2014 at Ruang Seminar FMIPA UNY Karangmalang Yogyakarta

    *Sidang Panel Insya Allah dibersamai 3 pembicara hebat :
    1. Prof. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc (Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM RI)
    2. Prof. Ir. Y. Sardjono (Peneliti Utama BATAN)
    3. Prof. Dr. Zuhdan Kun Prasetyo, M.Ed (Direktur Pascasarjana UNY)

    *Fasilitas : Sertifikat, Seminar Kit, Coffee Break, Lunch, Doorprize and many more.

    *Kontribusi :
    1. Non-pemakalah :
    -S1 UNY : 60k
    -S1 Luar UNY : 70k
    -Umum (masyarakat, guru, peneliti, dll) : 100k

    2. Pemakalah :
    -S1 UNY : 150k
    -S1 Luar UNY : 175k
    -Umum (masyarakat, guru, peneliti, dll) : 225k

    3. Prosiding : 300k

    *Untuk pemakalah lebih lanjut hubungi CP tertera. Mohon diperhatikan tanggal pentingnya

    Info lebih lanjut hubungi Fikri (083867562750) / Arif (087866796333) via email ke alamat piftujuhbelas@gmail.com atau via website himafisikauny.com

  • Ketika berjalan di lantai licin kita mudah terpeleset jatuh. Tapi kalau lantainya kasar, ketika kita tekan lantai, akan muncul gaya dorong yang membuat kita maju ke depan (hk Newton). Semakin kasar lantai, semakin keras kita harus menekan lantai untuk mendapatkan gaya dorong yang membawa kita sampai tujuan.

    Seorang yang ingin sukses, ingin kaya, ingin populer janganlah cari jalan yang licin atau jalan yang kelihatannya enak/mudah, karena kita bisa terpeleset dan jatuh, karir hancur, keluarga berantakan dan nama baik rusak. Tetapi carilah jalan yang kasar, jalan yang harus dilalui dengan peluh, kerja keras dan ketekunan, jalan yang hanya dipilih oleh orang dengan AQ (adversary quotient) yang tinggi atau orang yang pantang menyerah. Di jalan itu kita akan melihat mestakung membuat apa yang kita cita-citakan tercapai.

    Dalam hukumnya yang terkenal Newton mengatakan bahwa di alam ini setiap benda punya sifat malas bergerak. Benda yang diam cenderung tetap diam jika tidak ada gaya yang menggerakannya. Sifat malas bergerak ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia baik fisik maupun mental. Secara fisik jangan heran kalau melihat seseorang malas bergerak, biasanya semakin gemuk seseorang, semakin lamban ia bergerak. Secara mental, jangan heran kalau sulit untuk mendorong seseorang keluar dari zona kenyamanannya atau keluar dari keyakinan yang dianutnya sekalipun itu tidak masuk di akal. Dan jangan heran pula melihat seorang pejabat yang sedang menduduki jabatan tertentu tidak mau turun kecuali ada gaya besar yang menggusurnya.

    Dalam dunia mikro, atom selalu dihadapkan dalam dua pilihan : mau berkelakuan seperti gelombang atau mau berkelakuan seperti partikel. Jika atom dihadapkan pada proses interferensi gelombang secara otomatis terjadi self organizing ia akan berkelakuan seperti gelombang. Sebaliknya jika dihadapkan pada proses tumbukan, secara otomatis ia akan mengubah kelakuannya menjadi seperti partikel.

    Dalam dunia makro, manusia selalu dihadapkan dalam dua pilihan: berkelakuan negatif atau positif. Jika kita dihadapkan pada berita/pikiran negatif, secara otomatis terjadi self organizing (mestakung), kita akan berkelakuan negatif. Kalau ini berlangsung terus menerus, hasilnya adalah frustasi, kebencian, sakit hati, balas dendam, kecewa, sakit kepala, kanker, stroke dsb. Sebaliknya jika kita bayangkan kita ini sangat berbahagia, hidup di negara kita yang begitu kaya dengan sumber daya alam, begitu besar potensi sumber daya manusianya, begitu indah alamnya, begitu ramah dan bersahabat rakyatnya, punya keluarga yang demikian baiknya, maka tiap hari kita akan dipenuhi dengan optimisme. Kelakuan positif kita akan dominan. Hasilnya adalah kesuksesan, keberhasilan, kekayaan, dan kebahagiaan.

  • Ahmad Faisal Harish posted a new activity comment 5 years, 10 months ago

    terimakasih kak sudah mau membaca tulisan sepanjang itu dan terimakasih pula atas kritikan positifnya 😀

  • 1908462_792716157456005_7363517092055265184_n

    Dulu, waktu saya di MTs (Pondok Pesantren Bahrul Ulum Islamic Center), salah seorang guru saya pernah memberi tahu tentang sebuah motivasi. Kamu akan menjadi apa yang kamu pikirkan. Jika sekarang kamu berfikir menjadi fisikawan, menanamkannya dalam memori, kemudian terus membayangkan dan berusaha menepatinya, maka akan tiba masa dimana kamu benar-benar menjadi seorang fisikawan.

    Bayangkan segala impian yang ingin kamu raih beberapa tahun ke depan pada tiap kali kau beranjak tidur. Pada saat itu otak akan mengalami semua gelombang otak, utamanya pada saat masuk ke gelombang Alpha dan Theta. Saat itu, segala yang kamu fikir dan rasakan akan tertanam dalam alam bawah sadar, menjadi sebuah semangat yang membuatmu tersenyum. Dan akhirnya, tanpa kau sadari itu akan menjadi nyata pada masanya.

    Ketika berpikir bahwa kesuksesan ada bagi kita, ketika itu pula seluruh alam akan memberikan reaksi dengan menunjukkan bahwa kesuksesan itu ada. Sayangnya, masih banyak orang yang merasa diri mereka kerdil, kecil, dan tak mampu melakukan apa-apa. Akhirnya itulah yang direspon oleh alam. Benar-benar menjadikan mereka sebagaimana kemauan mereka dalam hati.

  • Load More