Activity

  • Fitri Andriyani posted an update 2 months ago

    Hakikat Filsafat

    Berbeda dengan india, Indonesia tidak memiliki Filsafat asli.
    pendapat tersebut mendapat tanggapan dari Dr. P. Zoetmulder dalam majalah DJAWA, dengan judul Green Elgen Wijsbegeerte.
    “…. Berdasarkan fakta-fakta yang ada, kami dapat menyakini bahwa pendapat yang mengingkari adanya pemikiran filsafat asli itu tidak benar.”
    Di dalam kehidupan rohani , yang menjadi dasar dan member isi kebudayaan jawa, benar-benar didapatkan usaha untuk mencari dasar awal segala sesuatu, renungan tentang apa yang terdapat dibelakang segala wujud lahir dan pencarian sebab terdalam daripadanya, yaitu suatu perincian tentang:
    a. Atri hidup manusia, asal mula dan akhir kehidupan(penulis: “Sangkan Paraning Dumadi”)
    b. Hubungan manusia-Tuhan-dunia.
    Walaupun tidak untuk member I suatu DEFINISI tentang filsafat, namun secara umum dapatlah fisafat diartikan:
    “suatu pencarian dengan kekuatan sendiri tentang hakekat segala wujud(fenomena), yang bersifat mendalam dan mendasar.”
    Terdapat perbedaan yang dalam antara system-sistem filsafat barat dan ungkapan-ungkapan renungan-renungan filsafat jawa ini yang sering bersifat fargmentaris dan kurang Nampak hubungan jelas. Terdapatlah terutama perbedaan besar antara sebagian filsafat barat dan filsafaat timur, dimana para ahli filsafat timur bukan menciptakan filsafat untuk filsafat sendiri. Pengetahuan senantiasa merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan; suatu langkah kejalan menuju kelepasan(verlossing), atau malahan mencapainya; satu-satunya jalan bagi manusia untuk sampai pada tujuan akhir.
    Berlainan dengan kebanyakan pemikiran Barat, disini tidak kita dapatkan pertentangan antara filsafat dan pengetahuan tentang Tuhan. Justru didapatkan pada filsafat Timur bahwa kearifan tertinggi, yang merupakan puncak filsafat, adalah pengetahuan tentang Tuhan, tentang Yang Mutlak dan hubungan-Nya dengan manusia.
    Rumusan Filsafat Barat(Yunani) dan Fitsafat Jawa
    Perkataan filsafat berasal dari bahasa Yunani Philosophia dan berarti : cinta kearifan(the love of wisdom).
    Bagi filsafat Jawa tepat sekali pengamatan Romo Zoetmulder bahwa “pengetahuan(filsafat) senantiasa hanya merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan”. Dapatlah dirumuskan bahwa dijawa filsafat berarti: cinta kesempurnaan(the love of perfection) dengan memakai analogi philosopia Yunani.
    Bilamana kita pakai bahasa jawa sendiri, maka filsafat berarti: ngudi kasampurnan, brusaha mencari kesempurnaan. Sebaliknya philosophia Yunani dibaca denngan bahasa jawa menjadi: ngudi kawicaksanan.
    Uraian tentang pemikiran filsafat, baik didalam “ngudi kasampurnan” maupun dalam “ngudi kawicaksanan” akan mempergunakan kelima huruf pertama dari abjad jawa: HANACARAKA
    Manusia adalah utusan Tuhan dan merupakan tulisannya dalam bentuk kodrat kemampuannya: CIpta Rasa Karsa.
    Didalam filsafat jawa dapan dinyatakan bahwa manusia itu selalu berada dalam hubungan dengan lingkungannya yaitu Tuhan dan alam semesta menyadari kesatuannya. Maka bagi filsafat jawa, manusia adalah: manusia-dalam-hubungan.demikian pula dalam mempergunakan kodrat kemampuannya selalu diusahakan kesatuan cipta-rasa-karsa.
    Kebudayaan barat mengidentifikasikan aku(ego) manusia dengan ciptanya(ratio,akal). Maka dapatlah dikatakan bahwa filsafat barat menggambarkan manusia sebagai: MANUSIA-LEPAS-HUBUNGAN. Bilamana Socrates menyebut manusia sebagai ANIMAL RATIONALE, filsafat timur umumnya bberanggapan bahwa didalam diri manusia terdapat sifat-sifat illahi.
    Semua masalah yang disebut diatas tadi, yaitu menyangkut pertanyaan tentang: Hidup-Alam semesta-Manusia-Tuhan, dalam pemikiran filsafat disebut metafisika.
    Berfilsafat dalam arti luas, didalam kebudayaan jawa berarti ngudi kasampurnan. Manusia mencurahakn seluruh eksistensinya, baik jasmani maupun rihani, untuk mencapai tujuan itu. Usaha tersebut merupakan suatu kesatuan, suatu kebulatan. Oleh karena itu, pada dasarnya tidak didapatkan perbedaan bidang metafisika-epistimologi-etika, yang masing-masing berdiri sendiri. Ketiga bidang ini hanya merupakan segi tak terpisahkan dlaam kesatuan gerak usaha manusia menuju kesempurnaan.