Activity

  • latifianazalati posted an update 4 years, 6 months ago

    MANFAAT KESULITAN

    Helloooooooooooooo………. ^_^
    Siapa yang masih galau-galauan di rumah, kamar kost, kamar mandi kampus, atau pojokan kelas? 😀 duh… lagi banyak masalah dan kesulitan ya?? semangat yuk!! Aku juga sama kok, namanya juga manusia biasa pasti adaaaa aja masalah atau kesulitan yang dihadapi. Yuk belajar bareng-bareng untuk menikmati setiap kesulitan dengan penerimaan tulus, ikhlas, sabar, dan syukur ^_^ karena tau ngga sih kalau banyak manfaat bisa kita dapatkan dari tiap-tiap kesulitan yang kita hadapi. Di antara manfaat itu adalah sebagai berikut:
    Pertama, kesulitan akan menghasilkan pengetahuan (ilmu). Pada mulanya manusia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain hanya dengan jalan kaki. Ketika dirasakan dengan jalan kaki ada resiko lambat dan tidak aman di jalan, manusia mulai menggunakan hewan tunggangan sebagai alat transportasi. Ketika hewan tunggangan dirasakan mahal dan perlu pemeliharaan serius sepanjang hari, maka orang mulai berpikir tentang alat pengganti hewan tunggangan ini. Maka lahirlah sepeda kayuh. Dengan alat ini manusia tidak perlu menyediakan rumput setiap hari. Dan hal ini terus berkembang pesat sejalan dengan perkembamngan pengetahuan dan inovasi manusia untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang dirasakan.
    Kedua, kesulitan akan menempa kekuatan manusia. Tidak dipungkiri bahwa kesulitan akan membuat manusia lebih kuat. Orang yang sehari-hari bergelut dengan kesulitan cenderung lebih kuat dan kreatif dibanding mereka yang sepanjang waktunya habis untuk santai dan bermalas-malasan. Dan parahnya, kan waktu ngga bisa nungguin kita 
    Ketiga, kesulitan adalah tangga untuk meraih prestasi. Sesuatu dikatakan sebagai prestasi jika untuk memperolehnya diperlukan proses yang sulit yang tidak semua orang bisa melakukannya. Kalau sekedar menggosok gigi, mandi, atau menghabiskan hidangan di piring, tidak ada orang yang merasa bangga karenanya sebabb setiap orang mampu melakukannya dengan mudah. Jika sesuatu dicapai setelah melewati kesulitan-kesulitan rumit, itu baru bisa dikatakan prestasi 😛 hihihiii….
    Keempat, aneka kesulitan itu menjadi sarana bagi Allah untuk member balasan pahala bagi hamba-hamba-Nya. Hidup yang kita jalani ini tidak Cuma-Cuma. Jika dalam hidup ini kita beramal baik, Allah menyediakan pahalanya. Kalaupun kita tertimpa keburukan, hal itu akan menggugurkan dosa. Kesabaran dan ikhlas menghadapi musibah pada akhirnya akan menuntun pelakunya mendapatkan kebaikan hidup baik di dunia maupun kelak di akhirat (insya Allah). Dan untuk keluar dari semua kesulitan itu, tidak perlu ditempuh jalan-jalan gelap yang justru akan mencelakakan dan menyyusahkan. Betapa cukup petunjuk Allah ini menjadi pelita yang tidak akan pernah padam.

    *mendidik anak
    Ini untuk ibu-ibu atau calon ibu. Yang sebagian menganggap mendidik anaka adalah sebuah “kesulitan paling mentok”
    Menarik sekali jika melihat cara yang digunakan beberapa para ibu untuk mendidik anaknya. Ada yang telah mendidik secara benar, namun umunya masih salah dalam mendidik. Pahadal, sebagian mereka adalah ibu-ibu yang terpelajar dan telah banyak mengikuti kajian-kajian ilmiah yang membahas kiat mendidik anak yang benar dan efektif.
    Banyak perilaku pengasuhan yang salah. Misalnya, menitipkan anak pada asuhan TV, mengambil pembantu sebagai pengganti dirinya, rutin “menceramahi” anak dengan omelan, memaki anak dengan kata-kata kasar, menyebut-nyebut kebaikan dirinya, mengungkap kesusahan-kesusahannya dalam mengasuh, menghukum anak dengan penuh emosi seolah anakanya adalah sosok penjahat, dan mengingkari kebaikan anak serta terus-menerus mencela kekurangannya.
    Jika salah seorang ibu ditanya: “mengapa ibu berbuat seperti ini?”, biasanya pertanyaan ini akan dijawab : “saya stress dengan bertumpuk-tumpuk masalah yang ada. Apalagi ditambah tingkah anak saya yang sangat nakal. Rasanya ingin saya mencubit paha anak itu sekuat-kuatnya. Biar saja, biar kapok!” inilah bahasa khas para ibu (tidak semua ibu). Bahasa para pendidik generasi itu. Berulang kali kita mendengarnya dan isinya tidak kunjung bergeser dari itu.
    Ketika seorang wanita akan menikah, harusnya dia memahami bahwa jalan kehidupan rumah-tangga yang akan dijalaninya adalah ibadah. Menjaga rumah, melayani suami, mengasuh anak dan lain-lainnya adalah ibadah. Sebagai ibadah tentu konsekuensinya jelas. Jika dilakukan dengan ikhlas dan benar, akan dibalas pahala oleh Allah. Jika menemui kesullitan atau kepayahan , hal itu akan menggugurkan dosa-dosanya. Pada saatnya nanti Allah akan membangunkan baginya rumah-tangga yang diliputi sa’adah (kebahagiaan) dan sakinah (ketentraman). Bahkan kelak di akhirat semua jerih-payahnya itu akan dibalas oleh Allah dengan surge. Jika demikian banyak kebaikannya, mengapa masih harus ada kezaliman-kezaliman dalam mendidik anak?
    Lemah dan dangkalnya orientasi ibadah membuat sebagaian ibu kehilangan kendali. Bukan hanya itu, mereka pun telah nyata “membunuh” potensi bakat besar yang dimiliki anak-anaknya. Jika cara pengasuhan yang cenderung aniaya itu diteruskan, mereka kelak akan menanggung segala keburukannya. Sudah capek, kesal hati, kusut pikiran, pahala ibadah tidak diperoleh. Anak-anak pun tidak makin menyusut kenakalannya. Tambah besar tambah merepotkan. Bahkan anak akan merasakan trauma terhadap pola asuh ibu terhadapnya. Dapat juga karena diasuh dengan cara seperti itu, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang kasar dan ketika ia menjadi orangtua maka ia juga akan melakukan hal sama terhadap anaknya kelak. Apa ini yang kita harapkan?
    Baiklah, jika dirasa mendidik anak adalah suatu kesulitan bagi sebagian ibu, maka sungguhlah kesulitan itu tidak akan percuma. Ingat, anak-anak yang kita didik itu adalah khalifah-khalifah muda yang akan bekerja memakmurkan bumi ini. Jika kitas membaca biografi orang-orang yang mengukir tinta emas dalam sejarah, rata-rata mereka diasuh oleh sosok ibu yang penuh tulus, kasih saying, sabar, dan gigih berkorban demi kebaikan putra-putrinya.
    Soooo,,,,,, jelas sekali kan bahwa kesulitan itu bermanfaat?? Jadi gini deh, semakin pahit obat, semakin mujarab. Sama halnya kesulitan yang dihadapi, semakin sulit, semakin itu membentukmu menjadi manusia yang berkualitas ^_^ tau tanah liat? Supaya jadi barang bernilai seni tinggi dan mahal perlu melewati tahap diputar, dipukul, dan dibakar. Kesulitan itu, bagaimana pun bentuknya benar-benar bermanfaat sekiranya kita pandai menggali hikmah dibaliknya. Biarlah kesulitan datang apa adanya. Sikap hikmah dibangun di atas kesabaran, ketenangan, dan kritis atas tiap-tiap perkara yang ditemui, baik pahit maupun manis. Aku rasa, tidak ada yang namanya kesulitan hakiki, sebab segala sesuatu bisa dihadapi dengan kesabaran dan ketenangan. Bahkan kesulitan adalah sumber ilmu yang tidak pernah putus mengalir. Hidup diatas hikmah tidak ubahnya seperti hidup di bawah naungan pelita yang cahayanya bersinar benderang.
    SELAMAT MENIKMATI KESULITAN YANG MENDEWASAKAN, SAUDARA-SAUDARI KU ^_^

    Referensi bacaan : AA. Qowiy. 2001. 10 sikap Positif Menghadapi Kesulitan Hidup. Bandung. PT. Remaja rosdakarya