Activity

  • Puspitarani posted an update 1 month ago

    LAPORAN REFLEKSI PERKULIAHAN ETNOMATEMATIKA
    (Senin, 14 Mei 2018)

    Disusun Oleh :
    Puspitarani
    NIM. 15301244008

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
    JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
    FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
    UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
    2018
    Pada hari Senin, 14 Mei 2018 perkuliahan Etnomatematika sedikit agak berbeda dari biasanya. Hari ini kami kelas Pendidikan Matematika A 2015 diajarkan oleh Bapak Marsigit mengenai metode pembelajaran yang dapat mencapai tujuan lebih dari satu KD, dengan metode tanya jawab dan diskusi dalam kelompok besar dan kelompok kecil atau bisa disebut dengan teknik pengelolaan kelas. Merupakan inovasi dalam pengelolaan kelas. Dimana guru nantinya dapat memfasilitasi semua karakteristik siswa yang beraneka ragam dengan didukung juga oleh RPP dan LKPD.
    Kami dibersamai oleh senior-senior kami, yang juga mahasiswa bimbingan Bapak Marsigit pada jenjang Master (S2) dan Doktor (S3). Kami dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama adalah kelompok besar yang terdiri dari empat belas orang yang kemudian diskusi tersebut dipimpin oleh Bapa Marsigit. Sedangkan kelompok kecil dengan anggota yang sama yaitu empat belas anggota namun masih dibagi tujuh kelompok dan setiap diskusi kelompok yang beranggotakan dua orang dibersamai oleh satu senior.
    Saya sendiri berada di kelompok besar yang dibersamai oleh Bapak Marsigit. Empat belas anggota masing-masing telah mempersiapkan lima pertanyaan yang nantinya akan dijawab oleh Bapak Marsigit, namun tidak semua pertanyaan yang kami berikan dijawab oleh Bapak Marsigit, tetapi ada pertanyaan yang dijawab oleh teman dalam satu kelompok. Berikut beberapa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pembelajaran berbasis etnomatematika disertai jawabannya :
    1. Pertanyaan pertama : Apakah perbedaan antara RPP yang biasa digunakan oleh guru dengan RPP berbasis Etnomatematika?
    Jawaban : yang membedakan RPP biasa (yang sering digunakan) dengan RPP berbasis Etnomatematik adalah dari sintaks yang ada di dalam RPP dan LKPD.
    2. Pertanyaan kedua : apakah keuntungan yang diperoleh ketika kita menggunakan RPP berbasis Etnomatematika untuk mengajar di kelas?
    Jawaban : siswa diajak untuk mengamati secara langsung benda-benda yang ada dikehidupan nyata, misalnya pembelajaran berbasis etnomatematika di Candi Prambanan, siswa diajak langsung ke Candi Prambanan untuk mengamati bentuk candi seperti apa dan apa saja konsep matematika yang dapat diajarkan agar siswa mudah untuk memahami suatu konsep matematika tersebut.
    3. Pertanyaan ketiga : apa saja teori-teori yang mendukung dan mendasar pembelajaran berbasis etnomatematika?
    Jawaban : ada beberapa teori, diantaranya teori konstruktivisme, teori behavioristik, dan teori belajar humanistik, teori pembelajaran bermakna.
    4. Pertanyaan keempat : bagaimana cara kita untuk menumbuhkan minat belajar anak?
    Jawaban : dengan memberikan kemerdekaan pada anak, anak itu harus dalam keadaan senang, tidak tertekan, dan syarat utamanya adalah adanya komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak, guru dengan siswa.
    5. Pertanyaan kelima : prosedur pembelajaran berbasis etnomatmatika itu seperti apa?
    Jawabannya : sesuai dengan sintaks yang tertera dalam RPP dan LKPD, bisa saintifik, RME, dan masih banyak lagi.
    6. Pertanyaan keenam : Bagaimana cara kita dapat memfasilitasi semua siswa yang mempunyai karakteristik yang beraneka ragam?
    Jawaban : seperti yang sedang kita lakukan saat ini, yaitu membagi seluruh siswa dalam dua kelompok, yaitu kelompok besar dan kelompok kecil. Kelompok besar dibersamai oleh guru, sedangkan kelompok kecil setiap siswa aktif dalam berdiskusi, saling menjawab pertanyaan dari teman yang satu dengan teman yang lain. Sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
    7. Pertanyaan ketujuh : Bagaimana memunculkan pertanyaan dari siswa?
    Jawaban : agar siswa mau bertanya, maka siswa diberikan kemerdekaan, kebebasan dengan aturan, siswa diberi kesempatan, siswa diberi pengalaman dalam proses pembelajaran.
    8. Pertanyaan kedelapan : apakah semua pembelajaran atau ilmu dapat diajarkan dengan pembelajaan berbasis matematika?
    Jawaban : tidak semua pembelajaran dapat diajarkan dengan pembelajaran berbasis matematika. Misalnya pada pembelajaran bahasa maka pembelajaran tersebut berbasis etnolenguistik, pada pembelajaran matematika maka pembelajaran tersebut berbasis etnomatematika. Semua ilmu pada hakekatnya itu ada dua komponen, satu dari pikiran dan yang kedua adalah dari pengalaman.
    9. Pertanyaan kesembilan : adakah etno dalam lingkungan keluarga?
    Jawabannya : bisa iya bisa tidak, tergantung. Misalnya untuk belajar matematika di rumah, kita dapat membawa miniatur Candi Prambanan ketika membelajarkan matematika kepada adik.
    10. Pertanyaan kesepuluh : apa saja kelemahan dan kelebihan pembelajaran berbasis etnomatematika?
    Jawaban : setiap pendekatan atau metode yang digunakan dalam pembelajaran mempunyai kelemahan dan kelebihan.
    11. Pertanyaan kesebelas : bagaimana memunculkan kreativitas siswa?
    Jawaban : kreativitas itu diperoleh dengan siswa itu harus mandiri, merdeka, tidak boleh di bawah tekanan, dalam kondisi senang, dan siswa punya motivasi.
    Dari beberapa pertanyaan dan jawaban yang diberikan, sebagian besar tertuju pada pentingnya sintaks yang harus tertera dengan jelas dalam RPP maupun LKPD. Dengan sintaks, apa yang tertuang dalam RPP seorang guru akan dapat lebih mudah terealisasikan untuk siswa, artinya siswa dapat mengetahui langkah demi langkah dalam mengerjakan LKPD dan guru lebih mudah untuk membedakan setiap pendekatan atau metode yang akan diajarkan di kelas.
    Setelah semua kelompok, baik kelompok besar dan kelompok kecil selesai berdiskusi, siwa diminta untuk kembali ke tempat duduk masing-masing. Lalu dari kelompok kecil diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas.
    Pada akhir pembelajaran, Bapak Marsigit memberikan sedikit motivasi untuk kami, yaitu intuisi adalah pengalaman, tidak ada intuisi bila tidak ada pengalaman. Jangankan anak kecil, sedangkan orang tua dan orang dewasa pun hidupnya tidak terlepas dari intuisi. Bapak Marsigit pun sebesar 70% hidupnya berisi intuisi. Intuisi lelah, intuisi lapar, intuisi kenyang dan lainnya.

    LAPORAN REFLEKSI PERKULIAHAN ETNOMATEMATIKA
    (Senin, 14 Mei 2018)

    Disusun Oleh :
    Puspitarani
    NIM. 15301244008

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
    JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
    FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
    UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
    2018
    Pada hari Senin, 14 Mei 2018 perkuliahan Etnomatematika sedikit agak berbeda dari biasanya. Hari ini kami kelas Pendidikan Matematika A 2015 diajarkan oleh Bapak Marsigit mengenai metode pembelajaran yang dapat mencapai tujuan lebih dari satu KD, dengan metode tanya jawab dan diskusi dalam kelompok besar dan kelompok kecil atau bisa disebut dengan teknik pengelolaan kelas. Merupakan inovasi dalam pengelolaan kelas. Dimana guru nantinya dapat memfasilitasi semua karakteristik siswa yang beraneka ragam dengan didukung juga oleh RPP dan LKPD.
    Kami dibersamai oleh senior-senior kami, yang juga mahasiswa bimbingan Bapak Marsigit pada jenjang Master (S2) dan Doktor (S3). Kami dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama adalah kelompok besar yang terdiri dari empat belas orang yang kemudian diskusi tersebut dipimpin oleh Bapa Marsigit. Sedangkan kelompok kecil dengan anggota yang sama yaitu empat belas anggota namun masih dibagi tujuh kelompok dan setiap diskusi kelompok yang beranggotakan dua orang dibersamai oleh satu senior.
    Saya sendiri berada di kelompok besar yang dibersamai oleh Bapak Marsigit. Empat belas anggota masing-masing telah mempersiapkan lima pertanyaan yang nantinya akan dijawab oleh Bapak Marsigit, namun tidak semua pertanyaan yang kami berikan dijawab oleh Bapak Marsigit, tetapi ada pertanyaan yang dijawab oleh teman dalam satu kelompok. Berikut beberapa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pembelajaran berbasis etnomatematika disertai jawabannya :
    1. Pertanyaan pertama : Apakah perbedaan antara RPP yang biasa digunakan oleh guru dengan RPP berbasis Etnomatematika?
    Jawaban : yang membedakan RPP biasa (yang sering digunakan) dengan RPP berbasis Etnomatematik adalah dari sintaks yang ada di dalam RPP dan LKPD.
    2. Pertanyaan kedua : apakah keuntungan yang diperoleh ketika kita menggunakan RPP berbasis Etnomatematika untuk mengajar di kelas?
    Jawaban : siswa diajak untuk mengamati secara langsung benda-benda yang ada dikehidupan nyata, misalnya pembelajaran berbasis etnomatematika di Candi Prambanan, siswa diajak langsung ke Candi Prambanan untuk mengamati bentuk candi seperti apa dan apa saja konsep matematika yang dapat diajarkan agar siswa mudah untuk memahami suatu konsep matematika tersebut.
    3. Pertanyaan ketiga : apa saja teori-teori yang mendukung dan mendasar pembelajaran berbasis etnomatematika?
    Jawaban : ada beberapa teori, diantaranya teori konstruktivisme, teori behavioristik, dan teori belajar humanistik, teori pembelajaran bermakna.
    4. Pertanyaan keempat : bagaimana cara kita untuk menumbuhkan minat belajar anak?
    Jawaban : dengan memberikan kemerdekaan pada anak, anak itu harus dalam keadaan senang, tidak tertekan, dan syarat utamanya adalah adanya komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak, guru dengan siswa.
    5. Pertanyaan kelima : prosedur pembelajaran berbasis etnomatmatika itu seperti apa?
    Jawabannya : sesuai dengan sintaks yang tertera dalam RPP dan LKPD, bisa saintifik, RME, dan masih banyak lagi.
    6. Pertanyaan keenam : Bagaimana cara kita dapat memfasilitasi semua siswa yang mempunyai karakteristik yang beraneka ragam?
    Jawaban : seperti yang sedang kita lakukan saat ini, yaitu membagi seluruh siswa dalam dua kelompok, yaitu kelompok besar dan kelompok kecil. Kelompok besar dibersamai oleh guru, sedangkan kelompok kecil setiap siswa aktif dalam berdiskusi, saling menjawab pertanyaan dari teman yang satu dengan teman yang lain. Sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
    7. Pertanyaan ketujuh : Bagaimana memunculkan pertanyaan dari siswa?
    Jawaban : agar siswa mau bertanya, maka siswa diberikan kemerdekaan, kebebasan dengan aturan, siswa diberi kesempatan, siswa diberi pengalaman dalam proses pembelajaran.
    8. Pertanyaan kedelapan : apakah semua pembelajaran atau ilmu dapat diajarkan dengan pembelajaan berbasis matematika?
    Jawaban : tidak semua pembelajaran dapat diajarkan dengan pembelajaran berbasis matematika. Misalnya pada pembelajaran bahasa maka pembelajaran tersebut berbasis etnolenguistik, pada pembelajaran matematika maka pembelajaran tersebut berbasis etnomatematika. Semua ilmu pada hakekatnya itu ada dua komponen, satu dari pikiran dan yang kedua adalah dari pengalaman.
    9. Pertanyaan kesembilan : adakah etno dalam lingkungan keluarga?
    Jawabannya : bisa iya bisa tidak, tergantung. Misalnya untuk belajar matematika di rumah, kita dapat membawa miniatur Candi Prambanan ketika membelajarkan matematika kepada adik.
    10. Pertanyaan kesepuluh : apa saja kelemahan dan kelebihan pembelajaran berbasis etnomatematika?
    Jawaban : setiap pendekatan atau metode yang digunakan dalam pembelajaran mempunyai kelemahan dan kelebihan.
    11. Pertanyaan kesebelas : bagaimana memunculkan kreativitas siswa?
    Jawaban : kreativitas itu diperoleh dengan siswa itu harus mandiri, merdeka, tidak boleh di bawah tekanan, dalam kondisi senang, dan siswa punya motivasi.
    Dari beberapa pertanyaan dan jawaban yang diberikan, sebagian besar tertuju pada pentingnya sintaks yang harus tertera dengan jelas dalam RPP maupun LKPD. Dengan sintaks, apa yang tertuang dalam RPP seorang guru akan dapat lebih mudah terealisasikan untuk siswa, artinya siswa dapat mengetahui langkah demi langkah dalam mengerjakan LKPD dan guru lebih mudah untuk membedakan setiap pendekatan atau metode yang akan diajarkan di kelas.
    Setelah semua kelompok, baik kelompok besar dan kelompok kecil selesai berdiskusi, siwa diminta untuk kembali ke tempat duduk masing-masing. Lalu dari kelompok kecil diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas.
    Pada akhir pembelajaran, Bapak Marsigit memberikan sedikit motivasi untuk kami, yaitu intuisi adalah pengalaman, tidak ada intuisi bila tidak ada pengalaman. Jangankan anak kecil, sedangkan orang tua dan orang dewasa pun hidupnya tidak terlepas dari intuisi. Bapak Marsigit pun sebesar 70% hidupnya berisi intuisi. Intuisi lelah, intuisi lapar, intuisi kenyang dan lainnya.