Activity

  • Puspitarani posted an update 6 months, 3 weeks ago

    PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMENTASAN KETOPRAK “REMBULAN KEKALANG” DI KALANGAN GENERASI MUDA

    Disusun Oleh :
    Puspitarani
    NIM. 15301244008

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
    JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
    FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
    UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
    2018

    Kebudayaan ketoprak merupakan salah satu kesenian yang melekat dalam kehidupan masyarakat selain wayang kulit dan wayang orang. Ketoprak adalah suatu bentuk seni pertunjukan tradisional yang mengangkat cerita sehari-hari, cerita-cerita rakyat yang ada di Jawa dalam bentuk sajian drama dengan dialog bahasa Jawa dan diiringi gamelan. Cerita yang dibawakan seperti cerita babad, sejarah, dan cerita-cerita asing yang berasal dari Arab (seribu satu malam) dan cina. Ketoprak digunakan sebagai wahana pendidikan karakter yang bertujuan untuk mengembalikan roh budaya Jawa di antara generasi muda yang saat ini dinilai semakin pudar. Mayoritas generasi muda lebih menggemari budaya praktis atau instan. Generasi muda semakin tidak mengenal sopan-santun dan tata karma, sehingga ketoprak perlu dikenalkan kepada mereka untuk membentuk karakter karena kaya akan nilai budaya Jawa seperti tata krama, sopan santun, dan hormat kepada orang tua. Oleh sebab itu, budaya ketoprak mempunyai peran penting dalam penanaman pendidikan karakter. Ketoprak sebagai media pendidikan karakter dapat dilihat dari dialog-dialog (bahasa) yang digunakan dalam ketoprak dan dilihat dari cerita yang terkandung dalam ketoprak.
    Salah satu judul cerita ketoprak yang dapat menanamkan pendidikan karakter pada generasi muda yaitu “Rembulan Kekalang”. Pementasan ketoprak “Rembulan Kekalang” menceritakan tentang seseorang yang tamak terhadap kekuasaan. Demi derajad dan martabat yang dicita-citakan, Tumenggung Pasingsingan merelakan putrinya yang bernama Rara Mangli dijadikan “rantai emas” untuk memikat Pangeran Timur. Rara Mungli pun tak kuasa menolak kehendak ayahnya. Ia pun menjadi istri dari Pangeran Timur yang sudah terbakar api asmara. Sejak menjadi suami Rara Mangli, Pangeran Timur menjadi melik nggendhong lali, lupa terhadap Mataram, negeri asalnya. Bahkan, Pangeran Timur menyetujui kehendak mertuanya untuk membunuh saudaranya sendiri, yakni Pangeran Hadi Mataram yang baru saja dinobatkan. Bagi Tumenggung Pasingsingan, dengan terbunuhnya Pangeran Hadi Mataram, menantunyalah yang akan menjadi penguasa Mataram.
    Pangeran Hadi Mataram yang baru saja dinobatkan sebagai Raja Mataram oleh Pangeran Sepuh Purbaya dengan jejeluk Kanjeng Sunan Amangkurat Agung Panatagama Kalifatullah, menerima ancaman dari Tumenggung Pasingsingan. Becik ketitik ala ketara – suradira jaya kanangrat swuh brastha tekaning ulah dharmastutiI, pada akhirnya jantraning kodrat pun menggagalkan kelicikan Tumenggung Pasingsingan : tindak angkara murka terkalahkan oleh tindak kebajikan. Sebagai akibat dari ketamakan ayahnya, Rara Mangli pun merasa hidupnya tak berarti lagi. Ia merasa kehilangan segalanya : cinta, ayah, dan tahta. Bayangan keindahan hidup tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapinya. Rara Mangli pun pun gempung satemah bingung. Baginya, wus pantog pepuntaning tekad. Rara Mangli berkehendak mengakhiri hidupnya.
    Berdasarkan cerita ketoprak “Rembulan Kekalang” tersebut, kita dapat mengambil pembelajaran tentang pendidikan karakter, diantaranya :
    1. Jadilah generasi muda yang tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan hidup. Seperti yang terdapat dalam cerita tersebut bahwa Tumenggung Pasingsingan menjadikan putrinya sebagai “rantai emas” demi derajad dan martabat yang dicita-citakannya.
    2. Jangan menjadi generasi muda yang tamak akan kekuasaan. Seperti yang terdapat pada cerita ketoprak tersebut, dengan terbunuhnya Pangeran Hadi Mataram maka menantu dari Tumenggung Pasingsingan akan menjadi penguasa Mataram
    3. Jadilah generasi muda yang cerdas dalam menyelesaikan suatu masalah, jangan mengambil jalan bunuh diri untuk menyelesaikan masalah tersebut. Seperti dalam cerita ketoprak tersebut, karena merasa hidupnya tak berarti lagi, Rara Mangli berkehendak mengakhiri hidupnya.
    4. Generasi muda harus mempunyai pendirian yang kuat dan tidak mudah terhasut oleh perkataan orang lain. Seperti yang telah diceritakan dalam ketoprak “Rembulan Kekalang”, karena sudah terbakar api asmara, Pangeran Timur rela untuk membunuh saudaranya sendiri, yaitu Pangeran Hadi Mataram.