Activity

  • Raudhah Nur Pratiwi posted an update 5 months ago

    Refleksi Budaya : Pentas Ketoprak “Rembulan Kekalang”

    Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan budaya. Berbagai macam budaya tersebar dari Sabang sampai Marauke. Salah satu budaya Indonesia adalah kesenian ketoprak. Kesenian ketoprak merupakan seni pentas drama tradisional yang berasal dari Jawa Tegah dan sekitarnya. Kesenian ini patut untuk dilestarikan, mengingat derasnya arus globalisasi kesenian ini semakin jarang ditemui. Ssalah satu cara melestarikannya adalah dengan diadakannya pentas kesenian Ketoprak.
    Seperti yang diadakan oleh Universitas Negeri Yogyakarta pada tanggal 9 Mei 2018. Dalam rangka memperingati Dies Natalis Universitas Negeri Yogyakarta yang ke- 54, diadakan pentas kesenian ketoprak dengan judul “Rembulan Kekalang” yang bertempat di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta.
    “Rembulan Kekalang” menceritakan tentang keserakahan Tumenggung Pasingsingan akan derajat dan martabat. Tumenggung Pasingsingan memiliki dendam kepada Kerajaan Mataram karena ia tidak terpilih menjadi Raja Mataram yang baru, yaitu Pangeran Hadi Mataram. Demi membalaskan dendamnya, Tumenggung Pasingsingan merelakan puterinya yang bernama Rara Mangli yang dijadikan ‘rantai emas’ untuk memikat Pangeran Timur (yang merupakan saudara dari Pangeran Hadi Mataram), kemudian Rara Mangli dan Pangeran Timur pun menikah. Setelah menikah, Pangeran Timur termakan hasutan mertuanya, Pangeran Timur menjadi lupa dengan Mataram, bahkan Pangeran Timur menyetujui kehendak mertuanya untuk membunuh Pangeran Hadi Mataram yang tak lain adalah saudaranya sendiri. Pikir Tumenggung Pasingsingan, jika Pangeran Hadi terbunuh, maka menantunyalah yang akan menjadi penguasa Mataram. Tumenggung Pasingsingan pun menyusun rencana pembunuhan Pangeran Hadi Mataram. Namun, rencana itu gagal. Tumenggung Pasingsingan kalah dengan kelicikannya.
    Ketoprak ‘Rembulan Pasingsingan’ berisi banyak sekali pesan moral yang dapat diteladani. Beberapa diantaranya adalah : Pertama, janganlah berambisi akan suatu hal sehingga menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Karena rakus akan derajat dan martabat, Tumenggung Pasingsingan menjadi buta membedakan mana yang benar mana yang salah, sehingga menempuh cara yang licik untuk memperoleh kekuasaan. Kedua, janganlah mudah terhasut oleh hal-hal yang buruk seperti halnya Pangeran Timur yang termakan hasutan Tumenggung Pasingsingan dan Rara Mangli. Kita harus berpegang teguh pada prinsip agar tidak terbawa arus hal-hal yang negatif. Ketiga, dari kisah tersebut kita tau bahwa apapun yang sedari awal sudah diniati dengan niat yang tidak baik pastilah akan kalah melawan kebaikan, “Segala amal tergantung pada niatnya” baik buruknya suatu hal diliat pada niatnya. Dan terakhir, janganlah menyimpan dendam, sesungguhnya dendam merupakan penyakit hati yang akan mengantarkan seseorang berlaku keji.