Activity

  • abi posted an update 3 weeks, 5 days ago

    MANUSIA DALAM PANDANGAN BEBERAPA TOKOH FILSAFAT

    1. JEAN PAUL SARTRE

    a. Eksistensi Mendahului Esensi
    Menurut Sartre, esensi manusia tidak dapat dijelaskan seperti halnya esensi benda benda. Disini Sartre memberikan contoh menggunakan sebuah pisau. Ketika seseorang melihat pisau tersebut maka orang tersebut akan langsung memahami tujuan bahwa pisau dibuat oleh seseorang yang memiliki konsep di kepalanya tentang tujuan dan prosedur pembuatan pisau tersebut, misalnya pisau terbuat dari logam, digunakan untuk memotong daging dan lain sebagainya. Tetapi manusia berbeda dengan pisau tersebut, manusia tidak bisa dijelaskan seperti esensi benda benda. Ketika kita bertemu dengan seseorang, kita tidak bisa menjelaskan bahwa orang tersebut dermawan, jahat, baik, buruk dan sebagainya karena manusia tidak memiliki esensi bawaan seperti halnya benda benda mati.
    Jean Paul Sartre menganggap bahwa esensi manusia dibentuk individu melalui sikap maupun perilku individu tersebut. Misalnya seorang mahasiswa dalam keseharianya selalu membully teman temannya yang ada di kelas, maka esensi dari mahasiswa tersebut adalah tukang bully. Namun berbeda lagi ketika mahasiswa tersebut berada di lingkungan rumahnya, dimana mahasiswa yang dijuluki tukang bully tersebut selalu berbuat baik kepada masyarakat yang ada di sekitar rumahnya, maka esensi mahasiswa tersebut sangat baik menurut masyarakat yang ada disekitar rumahnya.
    Jadi dalam konsep ini dapat di artikan bahwasanya hakikat atau esensi bawaan itu tidak berlaku untuk manusia karena esensi manusia dapat dibangun melaui eksistensi atau perilaku yang ia perbuat sehari hari. Jika seorang individu selalu berbuat bohong maka ia telah membangun esensi sebagai seorang pembohong, dan barang siapa yang selalu berbuat jujur maka ia telah membangun esensi sebagai seorang yang jujur.
    Sastre juga menegaskan bahwa sejatinya manusia pertama tama ada dan mewujudkan esensi nya sendiri karena manusia semata mata membentuk dirinya sendiri dan memiliki derajat yang lebih tinggi dari mahluk lainya karena tidak memiliki kodrat yang ditentukan sebelumnya. Dan pada intinya manusia adalah mahluk yang bebas menentukan esensinya sendiri melalui eksistensinya.
    b. Faktisitas
    Menurut Jean Paul Sartre faktisitas adalah fakta fakta tak terhindarkan dalam kehidupan manusia. Fakta fakta tersebut tidak dapat dihilangkan, namun fakta fakta tersebut dapat sedemikian rupa dilupakan, diolah maupun dimanipulasi. Faktualitas tersebut meliputi orang lain, kematian, tempat, waktu, dan lingkungan. Jadi manusia dipersilahkan untuk membentuk esistensinya semau maunya namun mau tidak mau akan bertabrakan dengan yang namanya faktisitas.
    2. AL GHAZALI
    Al Ghazali adalah seorang ulama serta pemikir muslim yang karya karyanya banyak sekali menyinggung tentang manusia. Ia melihat manusia bukan hanya melalui bentuk jasmaninya saya, namun ia juga memperhatikan hal hal seperti kerohanian, sifat, tujuan hidup serta hubungan antara manusia denga tuhannya.
    Nama Al Ghazali sendiri merupakan nama popular dari Muhammad bin Muhammad atau Abu Hamid al Ghazali, ia dilahirkan pada tahun 450 H/1058 M di kota thus, salah satu kota di Persia dimasa kekuasaan dinasti saljuk. Ia terlahirb dilingkungan muslim dimana orang tuanya juga mendambahkan seorang Al Ghazali agar bias mengabdi kedalam masyarakat.
    Dalam tulisan ini akan dijelaskan beberapa konsep pemikiran dari seorang AL Ghazali yang meliputi hakikat manusia, tujuan hidup manusia dan upaya untuk mencapai tujuan hidup manusia itu sendiri.
    a. Hakikat Manusia
    Di dalam ilmu mantiq, manusia disebut dengan “hayawannu natiq” yang berarti hewan yang memiiki akal. Hal ini disebut sebut sebagai pembeda antara manusia dengan hewan apapun dimana hewan tidak memiliki akal sedangkan manusia memiliki akal.
    Al Ghazali sendiri berpendapat bahwasanya manusia memiliki identitas esensial dalam dirinya yang tidak akan berubah ubah yang disebut dengan An Nafs yang berarti jiwa. Dalam pandanganya an nafs merupakan subtansi manusia yang dapat berdiri sendiri dan tidak membuthkan tempat, hal ini berarti bahwa esistensi manusia tidak dapat dilihat dari fisiknya karena fisik tidak akan dapat berdiri sendiri tanpa an nafs.
    Al ghazali membuktikan dalam diri manusia terdapat subtansi non materiel yang disebut dengan an nafs seperti yang telah dijelaskan di atas. Ia juga berpendapat bahwa an nafs lah yang akan mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang telah dilakukan manusia di bumi dihadapan Allah kelak.
    Al Ghazali juga memberikan bukti bukti dngan menganalogikan bahwasanya tumbuhan hanya bias bergerak monoton dalam satu tempat karena tumbuhan memiliki prinsip dasar tumbuhan yang disebut dengan An Nafs Al Nabatiyah. Selain tumbuhan al ghazali juga menganalogikan hewan yang mempunyai indra rasa dan bergerak kemanapun ia mau yag disebut dengan prinsip An Nafs Al Hayawaniyah. Begitupun dengan manusia selain memiliki gerak dan rasa manusia juga memiliki prinsip berfikir dan menentukan kehendak, prinsip ini disebut dengan An Nafs Al Insaniyah.

    b. Tujuan Hidup Manusia
    Menurut Al Ghazali tujuan hidup manusia adalah mendapatkan kebahagiaan dimana kebahagiaan tersebut memiliki tujuan akhir yaitu bahagia akhirat yang puncaknya ketika manusia bertemu dengan Allah SWT dengn segala kenikmatan ketika berjumpa denganya dan hal ini tidak akan dialami manusia saat berada di dunia.
    Kebahagian akhirat yang dimaksud oleh Al Ghazali tersebut memiliki empat ciri ciri yaitu kekal tanpa akhir, gembira tanpa duka cita, pengetahuan tanpa kebodohan dankaya tanpa kemiskinan

    c. Usaha untuk mencapai tujuan hidup
    Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa tujuan manusia adalah untuk mendapatkan kebahagiaan diakhirat. Menurut Al Ghazali sendiri bahwa kebahagian diakhirat dapat dipersiapkan ketika anusia hidup di dunia. Adapun caranya yaitu dengan ilmu dan amal. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu ilmu syar’I dan ilmu terpuji, sedangkan amal ya g dimaksud adalah amal ibadah yang ditujuhkan langsung kepada Allah SWT dan amalan bail yang ditujuhkan kepada seluruh umat manusia dan mahluk ciptaan Allah yang ada di bumi.

    Daftar pustaka : Filsafat islam : metode dan penerapan
    Al Ghazali dan Plato
    Filsuf filsuf besar tentang manusia